Biskuit dan cookies sering kali dianggap sama karena keduanya merupakan camilan kering yang renyah dan manis. Namun, tahukah Anda bahwa keduanya memiliki asal-usul, bahan, proses pembuatan, hingga tekstur yang berbeda? Artikel ini akan membahas secara lengkap sejarah serta perbedaan utama antara biskuit dan cookies, sehingga Anda bisa lebih menghargai kedua camilan populer ini saat menikmatinya bersama teh atau kopi.

Asal-Usul dan Sejarah Biskuit
Kata “biskuit” berakar dari bahasa Latin “bis coctus”, yang berarti “dipanggang dua kali”. Proses pemanggangan ganda ini dilakukan untuk mengeluarkan kelembaban, sehingga biskuit menjadi lebih awet dan tahan lama, cocok untuk perjalanan jauh atau penyimpanan jangka panjang. Sejarah biskuit sudah ada sejak zaman Romawi kuno, di mana tentara menggunakan roti keras sebagai bekal.
Di Indonesia, biskuit sangat populer dengan merek-merek legendaris seperti Khong Guan yang sering menjadi hidangan wajib saat Lebaran, lengkap dengan kaleng merah ikoniknya. Biskuit telah menjadi camilan sehari-hari yang dinikmati di berbagai kesempatan, dari santai di rumah hingga bekal bepergian.
Asal-Usul dan Sejarah Cookies
Sementara itu, cookies memiliki cerita yang lebih unik. Konon, cookies pertama kali muncul secara tak sengaja pada abad ke-7 Masehi di Persia (sekarang Iran), ketika seorang pembuat kue menguji suhu oven dengan sedikit adonan kue. Hasilnya adalah kue kecil yang renyah dan lezat. Nama “cookies” sendiri berasal dari kata Belanda “koekje”, yang artinya “kue kecil”.
Seiring waktu, cookies menyebar ke berbagai negara melalui perdagangan dan pengaruh budaya, menghasilkan variasi seperti Linzer Cookies dari Austria, Alfajores dari Amerika Latin, hingga Madeleines dari Prancis. Di Amerika, cookies identik dengan chocolate chip cookies yang lembut dan penuh cita rasa.

Perbedaan Bahan dan Cara Pembuatan
Meski sama-sama berbahan dasar tepung terigu, gula, mentega, dan telur, proses pembuatan biskuit dan cookies cukup berbeda:
- Biskuit: Adonan dibuat dari tepung rendah protein, lemak (seperti mentega), gula, dan pengembang. Adonan digiling tipis, dicetak dengan pola, kemudian dipanggang pada suhu sekitar 170°C selama 15-25 menit hingga kecokelatan. Proses ini menghasilkan tekstur yang konsisten dan renyah.
- Cookies: Biasanya dimulai dengan melelehkan mentega hingga agak kecokelatan untuk aroma lebih kaya. Campurkan gula pasir dengan brown sugar untuk kelembutan ekstra, lalu satukan dengan adonan kering (tepung, baking soda, vanilla, garam). Adonan dibentuk bola-bola kecil dan dipanggang pada suhu 175°C. Cookies sering ditambahkan choco chips atau kacang untuk variasi rasa.
Perbedaan Tekstur dan Rasa yang Paling Terasa
Inilah bagian yang paling membedakan keduanya:
- Biskuit: Teksturnya umumnya sangat renyah dan padat saat digigit, dengan suara “kriuk” yang khas. Kandungan lemak tinggi membuatnya lebih garing, sementara tambahan seperti kismis atau cokelat memberikan variasi tanpa mengubah kekerasan dasar.
- Cookies: Lebih beragam! Ada yang renyah total, chewy (renyah luar, lembut dalam) berkat brown sugar dan mentega cair, hingga cakey yang empuk seperti kue kecil. Cookies biasanya lebih manis dan kaya rasa, sering dengan topping choco chips yang meleleh di mulut.
Kesimpulan: Mana yang Lebih Anda Suka?
Baik biskuit maupun cookies memiliki tempat spesial sebagai camilan favorit banyak orang. Biskuit cocok untuk yang suka tekstur renyah klasik dan awet, sementara cookies menawarkan sensasi lebih lembut dan variatif. Selanjutnya saat memilih camilan, Anda bisa lebih tepat sesuai selera!
Apakah Anda tim biskuit atau tim cookies? Bagikan pengalaman Anda di komentar. Jangan lupa share artikel ini jika bermanfaat untuk teman-teman pecinta camilan.